BELAJAR DARI PENGALAMAN ORANG LAIN

1 tahun yang lalu

Berbenah adalah tindakan yg selalu harus dilakukan. Tanpa mau berbenah, besar kemungkinan akan tertinggal dengan yg lain. Apalagi di era disruption seperti sekarang ini. Bukan lagi yg besar mengalahkan yg kecil, tetapi yg cepat bakal mengalahkan yg lambat. Cepat berbenah dan beradaptasi dg perkembangan terkini, itu yg saat ini menjadi kata kunci. Tak cukup hanya puas dg pencapaian yg ada, tetapi perlu lebih ditingkatkan agar menjadi lebih baik.

Berbenah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan melakukan studi banding. Studi banding berarti berusaha mengarungi pengalaman orang lain yg lebih dulu berhasil. Kali ini, Pesantren Al-Bidayah Jember ingin berbenah dg melakukan studi banding ke sejumlah pesantren kawasan Kab. Kediri dan Malang guna memperbaiki dan melengkapi kekurangan dan kelemahan yg ada selama ini. Studi banding dilaksanakan selama 2 hari, yakni mulai tanggal 23 dan berakhir tanggal 24 November 2019. Acara ini diikuti hampir mayoritas santri hingga rombongan mencapai 3 bus.

Dalam rangkaian perjalanan studi banding, pesantren yg menjadi tujuan pertama adalah Pesantren Hidayatul Mubtadi'in. Pesantren yg lebih dikenal dg sebutan nama daerah Lirboyo ini menyuguhkan suasana yg cukup kental dg tradisi tulis menulis sekalipun tergolong salaf. Bahkan setiap tahunnya para santri diwajibkan menghasilkan sebuah karya dalam bentuk buku. Sedangkan kaderisasi tim bahtsul masail yg handal tetap menjadi prioritas kegiatan pesantren bagi setiap santri.

Tak jauh dari kota Kediri, terdapat sebuah daerah bernama Ploso yg juga memiliki pesantren terkenal. Namanya Pesantren Al-Falah. Pesantren yg sangat kuat tradisi syawir (alias musyawarah) ini menjadi rujukan studi banding setelah berkunjung dari Pesantren Lirboyo. Tradisi syawir yg ada berjalan cukup efektif melalui halaqah-halaqah (kelompok) yang berpusat di satu tempat, yakni teras asrama. Semua santri tumpah ruah di teras tersebut. Cara seperti ini sangat memudahkan dalam mengontrol aktifitas kegiatan karena terpusat dalam satu tempat.

Dari Pesantren Ilmu al-Qur'an Malang ditekankan tentang pentingnya bacaan fatihah, lebih-lebih saat berkaitan dg shalat. Sebab kefasihah dalam membac fatihah juga menjadi standart kelayakan seorang calon imam shalat. Bagaimana cara melafadzkan yg benar telah diajarkan saat disela-sela studi banding. Di samping itu, kebiasaan bersalaman (jabat tangan) menurut pemateri Pesantren Ilmu al-Qur'an juga menjadi bukan sekedar kebiasaan biasa yg dimaknai sebagai menyambung antara guru dan murid, akan tetapi salaman itu sejatinya menyalami guru-gurunya terdahulu. Insyallah sampai ke Rasulullah.