RANGKAIAN KEGIATAN PELATIHAN METODE AL-BIDAYAH 2019

1 tahun yang lalu

AL-BIDAYAH JEMBER- Kegiatan Pelatihan Gelombang pertama telah usai dilaksanakan. Sekalipun pelatihan hanya digelar selama enam hari, tetapi waktu yang singkat tersebut benar-benar dimanfaat dengan maksimal oleh para peserta pelatihan. Dari sejak awal peserta begitu antusias menyimak paparan demi paparan yang sampaikan oleh penggagas Metode al-Bidayah Dr. H. Abdul Haris, M.Ag dengan seksama.

Pelatihan yang dimulai sejak Senin 22 April 2019 telah diikuti oleh peserta dari berbagai kota. Para peserta yang ikut terlibat dalam pelatihan ada yang datang dari Bandung, Bogor, Tangerang, Banten, Lombok, dan daerah lain. Di tengah pelatihan berlangsung datang pula peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari Negeri Jiran (Malaysia). Walaupun berasal dari beragam latar belakang profesi, tetapi semua peserta yang datang berharap dapat merasakan pengalaman langsung praktik dari metode al-Bidayah dan dapat pula mengamalkannya ketika kembali ke tempat masing-masing.

Di hari pertama, peserta diberikan orientasi tentang apa itu Metode al-bidayah. Para peserta yang selama ini hanya mengikuti tayangan metode al-bidayah melalui channel youtube, kini langsung dapat bertatap muka dan berdialog dengan penggagas metode al-bidayah secara langsung. Dilanjut dengan pertemuan di hari kedua yang berisi tentang cara belajar dan sekaligus cara mengajar sharaf, peserta disuguhi dengan pembelajaran sharaf ala metode al-bidayah yang tidak seperti biasanya.

 

Ada beberapa hal yang mungkin agak berbeda model pembelajaran sharaf dengan pada umumnya, seperti penekanan hafalan tashrif dan konsep wazan. Banyak peserta yang “menggugat” kenapa dalam metode al-Bidayah tidak ditekankan hafalan untuk fi’il mujarrad padahal di banyak tempat sudah biasa fi’il mujarrad dihafalkan. Umumnya banyak lembaga yang menggunakan al-amtsilah al-tashrifiyah sebagai panduannya. Namun ternyata belajar tashrif dalam Metode al-Bidayah hanya tiga lembar kertas saja mengingat perlunya inovasi baru akibat asumsi belajar yang tidak lama seperti zaman dulu. Semua kegelisahan peserta terjawab dalam kegiatan pelatihan. Begitu pula dengan konsep wazan yang dikembangkan tidak hanya fa’-‘ain-lam, semua dibongkar tuntas kepada para peserta.   

Adapun di hari ketiga, peserta diajarkan bagaimana cara belajar maupun mengajar nahwu yang sistematis. Sebab, banyak proses kegiatan pembelajaran di beberapa tempat menjadi kurang efektif oleh karena model pengajarannya yang masih kurang sistematis sehingga terkadang membuat bingung para peserta didik. Apa yang selama ini dipersepsikan sulit dalam belajar ilmu nahwu menjadi terpatahkan sebab belajarnya lebih sistematis. Para peserta pelatihan dikenalkan untuk membedakan antara materi prasyarat dan materi inti sehingga tidak terjadi tumpang tindih materi. Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam belajar nahwu adalah penyajian materi bahasan yang harus lebih operasional. Boleh jadi, peserta didik menjadi sulit belajar akibat kesulitan memahami materi. Guna untuk memantapkan pengalaman, para peserta pelatihan juga dilatih untuk tathbiq (praktik) sehingga teori-teori yang telah didapatkan menjadi bisa dipraktikkan. Kegiatan tathbiq dilaksanakan di hari ke empat pelatihan.

Sebagai puncak dari pelatihan, para peserta melakukan berlatih micro teaching. Melalui kegiatan ini, para peserta berlatih mengajar kepada santri dengan model tanya jawab yang khas ala Metode Al-Bidayah. Kegiatan yang dilaksanakan di hari ke lima ini menjadikan para peserta pelatihan lebih siap ketika kembali ke tempat masing-masing untuk mengajar bahasa Arab atau kitab kuning yang lebih sistematis. Apapun hari terakhir pelatihan diisi dengan dialog dan pencarian solusi atas masalah yang dihadapi oleh para peserta pelatihan baik yang dihadapi secara pribadi maupun lembaga yang diasuh. Dalam sesi itu juga diadakan penyerahan sertifikat dan ijazah bagi para peserta dan ditutup dengan makan bersama yang diikuti oleh penulis Metode Al-Bidayah, panitia, dan peserta pelatihan.

 

 

 

Kontributor:MS. Hisan

 

METODE AL-BIDAYAH

Jembatan Ngaji Kitab Kuning Untuk Para Pemula