TENTANG LAULA (لَوْلَا)

10 Sep 2023
Image
Ukuran Font

 

Salah satu sebab yang menjadikan tingkat kesulitan membaca dan memahami teks Arab semakin tinggi adalah multi fungsi  yang dimiliki oleh satu lafadz. Salah satu contohnya adalah tentang lafadz لَوْلَا. Lafadz لَوْلَا memiliki multi fungsi yang tentunya antara fungsi yang satu dengan yang lain memiliki pengertian yang berbeda.

Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi  yang dimiliki  oleh lafadz لَوْلَا  ada tiga, yaitu: 1. حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ , 2. حَرْفُ تَوْبِيْخٍ[1] dan 3. حَرْفُ تَحْضِيْضٍ[2] .

1. Lafadz لَوْلَا dianggap memiliki fungsi حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ

ketika ia masuk pada jumlah ismiyyah. Merupakan sebuah kepastian bahwa jumlah ismiyah yang dimasuki oleh lafadz لَوْلَا yang disebutkan hanyalah mubtada’nya  saja,  sedangkan khabarnya pasti dibuang yang ditakwil dengan lafadz مَوْجُوْدٌ  atau حَاصِلٌ. lafadzلَوْلَا yang memiliki fungsi sebagai حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ  mengandung “makna syarat” sehingga pasti memiliki jawab syarat. lafadz لَوْلَا yang memiliki fungsi sebagai حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ  pasti dilengkapi oleh dua jumlah; yang pertama adalah jumlah ismiyyah dimana khabarnya pasti dibuang dan yang kedua adalah jumlah fi’liyyah atau jumlah ismiyah yang dimasuki كَانَ yang berfungsi sebagai jawab syarat.

Yang dimaksud dengan حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ adalah tercegahnya realisasi dari jumlah yang kedua karena adanya jumlah yang pertama. Lafadz لَوْلَا yang memiliki fungsi sebagai حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ dari sisi arti biasa diterjemahkan dengan: “seandainya tidak/bukan“. Hal ini dapat dicontohkan sebagai berikut:

لَوْلَا خَالِدٌ لَسَافَرَ مُحَمَّدٌ : “seandainya tidak ada Khalid, maka Muhammad pasti bepergian” (Muhammad tidak jadi bepergian karena adanya Khalid)

Lafadz  لَوْلَا dalam contoh di atas disebut sebagai حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ karena ia masuk pada jumlah ismyiyah. jumlah ismiyyah yang dimasuki لَوْلَا hanya disebutkan mubtada’nya saja (yaitu lafadz  خَالِدٌ), sedangkan khabarnya dibuang (yaitu  berupa lafadz مَوْجُوْدٌ ), sementara  jumlah yang selanjutnya  yang berfungsi sebagai jawab syarat dari لَوْلَا adalah jumlah fi’liyyah yang berupa سَافَرَ مُحَمَّدٌ  . Yang dimaksud dengan حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ adalah tercegahnya realisasi dari jumlah yang kedua karena adanya jumlah yang pertama. Karena demikian, maka  contoh di atas dapat dimaknai dengan “kepergian Muhammad menjadi tercegah karena adanya Khalid”

  • فَلَوْلَا فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ : “seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk orang yang rugi”. (Kamu tidak jadi termasuk orang yang merugi karena adanya karunia dan Rahmat Allah I).

Lafadz  لَوْلَا  dalam contoh di atas disebut sebagai حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ karena ia masuk pada jumlah ismiyyah. jumlah ismiyyah yang dimasuki لَوْلَا hanya  disebutkan mubtada’nya saja (yaitu lafadz فَضْلُ اللهِ), sedangkan khabarnya  dibuang (yaitu  berupa lafadz مَوْجُوْدٌ), sementara  jumlah yang selanjutnya  yang berfungsi sebagai jawab syarat dari لَوْلَا adalah jumlah ismiyyah yang berupa لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ. Yang dimaksud dengan حَرْفُ امْتِنَاعٍ لِوُجُوْدٍ adalah tercegahnya realisasi dari jumlah yang kedua karena adanya jumlah yang pertama. Karena demikian, maka  contoh di atas dapat dimaknai dengan “ kamu termasuk orang yang merugi menjadi tercegah karena adanya karunia dan Rahmat Allah”

2. Lafadz لَوْلَا   dianggap memiliki fungsi تَوْبِيْخ atau تَحْضِيْض

Dianggap memiliki fungsi تَوْبِيْخ atau تَحْضِيْض ketika masuk pada jumlah fi’lyiyah. Disebut memiliki fungsi تَوْبِيْخ ketika fi’il yang digunakan dalam jumlah fi’liyyah adalah fi’il madli, dan disebut memiliki fungsi تَحْضِيْض ketika fi’il yang digunakan dalam jumlah fi’liyyah adalah fi’il mudlari’. Lafadz لَوْلَا yang memiliki fungsi تَوْبِيْخ atau تَحْضِيْض tidak memiliki makna syarat, sehingga tidak membutuhkan jawab syarat.

Perbedaan antara تَوْبِيْخ dan تَحْضِيْض terletak pada: تَوْبِيْخ merupakan anjuran yang bernada negatif, sedangkan تَحْضِيْض merupakan anjuran yang bernada positif. Lafadz لَوْلَا ketika masuk pada jumlah fi’iliyyah, apakah berfungsi sebagai تَوْبِيْخ, ataukah berfungsi sebagai تَحْضِيْض memiliki arti yang sama, yaitu: “mengapa tidak”. Hal ini dapat dicontohkan sebagai berikut:

لَوْلَا اجْتَهَدْتَ        :mengapa kamu tidak bersungguh-sungguh”.

Lafadz لَوْلَا yang terdapat dalam contoh di atas memiliki fungsi تَوْبِيْخ  karena di samping ia masuk pada jumlah fi’liyyah, fi’il yang digunakan dalam jumlah fi’liyyah dimaksud merupakan fi’il madli (اِجْتَهَدَ). Karena demikian, maka ungkapan di atas merupakan anjuran yang bernada negatif.

لَوْلَا تَسْتَغْفِرُوْنَ اللهَ  : mengapa kamu semua tidak memohon ampun kepada Allah”

Lafadz لَوْلَا  yang terdapat dalam contoh di atas memiliki fungsi تَحْضِيْض karena di samping ia masuk pada jumlah fi’liyyah, fi’il yang digunakan dalam jumlah fi’liyyah dimaksud  merupakan fi’il mudlari’ (تَسْتَغْفِرُوْنَ). Karena demikian, maka ungkapan di atas merupakan anjuran yang bernada positif.

___________

[1] Dari sisi Bahasa lafadz تَوْبِيْخ merupakan bentuk Masdar dari وَبَّخَ – يُوَبِّخُ – تَوْبِيْخًا yang berarti "mencela, menegur, mendamprat”.

[2] Dari sisi Bahasa lafadz تَحْضِيْض merupakan bentuk Masdar dari حَضَّضَ – يُحَضِّضُ- تَحْضِيْضًا yang berarti “mengajak, mendorong, menganjurkan”.

 _________ Sumber : www.albidayahjember.com _________
𝗣𝗲𝗿𝗶𝗵𝗮𝗹 𝗜𝗻𝗳𝗼 𝗹𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝗽 𝐌𝐞𝐭𝐨𝐝𝐞 𝐀𝐥 𝐁𝐢𝐝𝐚𝐲𝐚𝐡, 𝗰𝗲𝗸 𝗹𝗶𝗻𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝘂𝘁 :  https://yubi.id/metodealbidayah

Bagikan
Artikel Lainnya
Produk Rekomendasi